Sistem Kliring & Pemindahan Dana Elektronik di Indonesia

Sistem Kliring & Pemindahan Dana Elektronik di Indonesia

 

Kliring (dari bahasa Inggris clearing) sebagai suatu istilah dalam dunia perbankan dan keuangan menunjukkan suatu aktivitas yang berjalan sejak saat terjadinya kesepakatan untuk suatu transaksi hingga selesainya pelaksanaan kesepakatan tersebut. Kliring sangat dibutuhkan sebab kecepatan dalam dunia perdagangan jauh lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan guna melengkapi pelaksanaan aset transaksi. Kliring melibatkan manajemen dari paska perdagangan, pra penyelesaian eksposur kredit, guna memastikan bahwa transaksi dagang terselesaikan sesuai dengan aturan pasar, walaupun pembeli maupun penjual menjadi tidak mampu melaksanakan penyelesaian kesepakatannya. Proses kliring adalah termasuk pelaporan / pemantauan, marjin risiko, netting transaksi dagang menjadi posisi tunggal, penanganan perpajakan dan penanganan kegagalan.

Saat ini di Indonesia terdapat 105 penyelenggara kliring lokal, baik yang dilaksanakan oleh Bank Indonesia maupun pihak lain yang ditunjuk oleh Bank Indonesia. Transaksi yang dapat diproses melalui sistem kliring meliputi transfer debet dan transfer kredit yang disertai dengan pertukaran fisik warkat, baik warkat debet (cek, bilyet giro, nota debet dan lain-lain) maupun warkat kredit. Khusus untuk transfer kredit, nilai transaksi yang dapat diproses melalui kliring dibatasi di bawah Rp100.000.000,00 sedangkan untuk nilai transaksi Rp100.000.000,00 ke atas harus dilakukan melalui Sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (Sistem BIRTGS).

Dalam melaksanakan kegiatan kliring tersebut, digunakan 4 (empat) jenis sistem yang berbeda yaitu:

  1. Sistem Kliring Elektronik atau dikenal dengan SKEJ, digunakan di Jakarta;
  2. Sistem Kliring Otomasi, digunakan di Surabaya, Medan dan Bandung;
  3. Sistem Semi Otomasi Kliring Lokal atau dikenal dengan SOKL, digunakan di 33 wilayah kliring yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia dan 37 wilayah kliring lainnya yang diselenggarakan oleh pihak lain yang ditunjuk oleh Bank Indonesia
  4. Sistem Manual (di 31 penyelenggara Non-BI).

 

Tujuan dan Manfaat

Tujuan diterapkannya SKNBI pada penyelenggaraan kliring di Indonesia adalah untuk meningkatkan efisiensi sistem pembayaran ritel serta memenuhi prinsip-prinsip manajemen risiko dalam penyelenggaraan kliring.

Adapun manfaat yang diperoleh dengan diterapkannya SKNBI adalah sebagai berikut :

  1. Bagi Bank Indonesia
    1. Efisiensi waktu dan biaya, khususnya dalam hal :

1)      operasional kliring dengan ditiadakannya fisik warkat kredit;

2)      maintenance aplikasi kliring dengan digunakannya sistem yang terintegrasi di seluruh wilayah kliring.

  1. Tersedianya jangkauan transfer antar bank melalui kliring yang lebih luas dengan diakomodirnya kliring antar wilayah untuk transfer kredit.
  2. Memenuhi prinsip-prinsip manajemen risiko dalam penyelenggaraan kliring yang bersifat multilateral netting sesuai dengan Core Principles yang dikeluarkan oleh Bank for International Settlement (BIS).

 

  1. Bagi Bank
    1. Efisiensi biaya operasional bank dalam pencetakan dan proses administrasi warkat kredit.
    2. Semakin luasnya jangkauan layanan bank kepada nasabah.

 

Pemindahan Dana Elektronik

Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di perbankan nasional relatif lebih maju dibandingkan sektor lainnya. Berbagai jenis teknologinya diantaranya meliputi Automated Teller Machine, Banking Application System, Real Time Gross Settlement System, Sistem Kliring Elektronik, dan internet banking. Bank Indonesia sendiri lebih sering menggunakan istilah Teknologi Sistem Informasi (TSI) Perbankan untuk semua terapan teknologi informasi dan komunikasi dalam layanan perbankan. Istilah lain yang lebih populer adalah Electronic Banking.

Electronic banking mencakup wilayah yang luas dari teknologi yang berkembang pesat. Beberapa diantaranya terkait dengan layanan perbankan di “garis depan” atau front end, seperti ATM dan komputerisiasi (sistem) Perbankan, dan beberapa kelompok lainnya bersifat “back end”, yaitu teknologi-teknologi yang digunakan oleh lembaga keuangan, merchant, atau penyedia jasa transaksi, misalnya electronic check conversion.

Selain itu, beberapa jenis E-banking terkait langsung dengan rekening bank. Jenis E-Banking yang tidak terkait rekening bias any berbentuk nilai moneter yang tersimpan dalam basis data atau dalam sebuah kartu (chip dalam smart card). Dengan semakin berkembangnya teknologi dan kompleksitas transaksi, berbagai jenis E-bankinf semakin sulit dibedakan karena fungsi dan fiturnya semakin terintegrasi atau mengalami konvergensi. Sebagai contoh, sebuah kartu plastik mungkin memiliki “magnetic strip”- yang bisa mengkaitkan dengan rekening bank, dan juga memiliki nilai moneter yang tersimpan dalam sebuah chip. Kadang kedua jenis kartu tersebut disebut “debit card” oleh merchant atau vendor.

Beberapa gambaran umum mengenai jenis-jenis teknologi E-Banking dapat dilihat di bawah ini:

  • Automated teller machine (ATM).

Terminal elektronik yang idsediakan lembaga keuangan atau perusahaan lainnya yang membolehkan nasabah untuk melakukan penarikan tunai dari rekening simpanannya di bank, melakukan setoran, cek saldo, atau pemindahan dana.

 

  • Computer banking.

Layanan bank yang bisa diakses oleh nasabah melalui koneksi internet ke pusat pusat data bank, untuk melakukan beberapa layanan perbankan, menerima dan membayar tagihan, dan lain-lain.

 

  • Debit (or check) card.

Akrtu yang digunakan pada ATM atau terminal point-of-sale (POS) yang memungkinkan pelanggan memperoleh dana yang langsung didebet (diambil) dari rekening banknya.

 

  • Direct deposit.

Salah satu bentuk pembayaran yang dilakukan oleh organisasi (misalnya pemberi kerja atau instansi pemerintah) yang membayar sejumlah dana (misalnya gaji atau pensiun) melalui transfer elektronik. Dana ditransfer langsung ke setiap rekening nasabah.

 

  • Direct payment (also electronic bill payment).

Salah satu bentuk pembayaran yang mengizinkan nasabah untuk membayar tagihan melalui transfer dana elektronik. Dana tersebut secara elektronik ditransfer dari rekening nasabah ke rekening kreditor. Direct payment berbeda dari preauthorized debit dalam hal ini, nasabah harus menginisiasi setiap transaksi direct payment.

 

  • Electronic bill presentment and payment (EBPP).

Bentuk pembayaran tagihan yang disampaikan atau diinformasikan ke nasabah atau pelanggan secara online, misalnya melalui email atau catatan dalam rekening bank. Setelah penyampaian tagihan tersebut, pelanggan boleh membayar taguhan tersebut secara online juga jika berkenan. Pembayaran tersebut secara elektronik akan mengurangi saldo simpanan pelanggan tersebut.

 

  • Electronic check conversion.

Proses konversi informasi yang tertuang dalam cek (number rekening, jumlah transaksi, dll) ke dalam format elektronik agar bisa dilakukan pemindahan dana elektronik.

 

  • Electronic fund transfer (EFT).

Perpindahan “uang” atau “pinjaman” dari satu rekening ke rekening lainnya melalui media elektronik.

 

  • Payroll card.

Salah satu tipe “stored-value card” yang diterbitkan pemberi kerja sebagai pengganti cek yang memungkinkan pegawainya mengakses pembayaraannya pada terminal ATM atau Point of Sales. Pemberi kerja menambahkan nilai pembayaran pegawai ke kartu tersebut secara elektronik.

 

  • Preauthorized debit (or automatic bill payment).

Bentuk pembuayaran yang mengizinkan nasabah untuk mengotorisasi pembayaran rutin otomatis yang diambil dari rekening banknya pada tanggal-tangal tertentu dan biasanya dengan jumlah pembayaran tertentu (misalnya pembayaran listrik, tagihan telpon, dll). Dana secara elektronik ditransfer dari rekening pelanggan ke rekening kreditor (misalnya PLN atau PT Telkom).

 

  • Prepaid card.

Salah satu tipe Stored-value card yang menyimpan nilai moneter di dalamnya dan sebelumnya pelanggan sudah membayar nilai tersebut ke penerbit kartu.

 

  • Smart card.

Salah satu tipe stored-value card yang didalamnya tertanam satu atau lebih chips atau microprocessors sehingga bisa menyimpan data, melakukan perhitungan, atau melakukan proses untuk tujuan khusus (misalnya validasi PIN, otorisasi pembelian, verifikasi saldo rekening, dan menyimpan data pribadi). Kartu ini bisa digunakan pada system terbuka (misalnya untuk pembayaran transportasi public) atau system tertutup (misalnya MasterCard atau Visa networks).

 

  • Stored-value card.

Kartu yang di dalamnya tersimpan sejumlah nilai moneter, melalui pembayaran sebelumnya oleh pelanggan atau melalui simpanan yang diberikan oleh pemberi kerja atau perusahaan lain. Untuk single-purpose stored value card, penerbit (issuer) dan penerima (acceptor) kartu adalah perusahaan yang sama dan dana pada kartu tersebut menunjukkan pembayaran di muka untuk penggunaan barang dan jasa tertentu (misalnya kartu telpon). Limited-purpose card secara umum digunakan secara terbatas pada terminal POS yang teridentifikasi sebelumnya di lokasi-lokasi tertentu (misalnya vending machines di sekolah-sekolah). Sedangkan multi-purpose card dapat digunakan pada beberapa penyedia jasa dengan kisaran yang lebih luas, misalnya kartu dengan logo MasterCard, Visa, atau logo lainnya dalam jaringan antar bank.

 

 

Sumber :

http://www.bi.go.id/web/id/

http://kjksmadani.wordpress.com/2009/02/03/jenis-jenis-teknologi-e-banking/

http://ivaninternisti.wordpress.com/2011/05/31/sistem-kliring-nasional-bank-indonesia/

http://adiriyadi.wordpress.com/

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

INKASO

INKASO

Inkaso merupakan kegiatan jasa Bank untuk melakukan amanat dari pihak ke tiga berupa penagihan sejumlah uang kepada seseorang atau badan tertentu di kota lain yang telah ditunjuk oleh si pemberi amanat. Sebagai imbalan jasa atas jasa tersebut biasanya bank menerapkan sejumlah tarif atau fee tertentu kapada nasabah atau calon nasabahnya. Tarif tersebut dalam dunia perbankan disebut dengan biaya inkaso. Sebagai imbalan bank meminta imbalan atau pembayarn atas penagihan tersebut disebut dengan biaya inkaso.

 

Warkat-warkat yang digunakan dalam inkaso :

  1. Cek
  2. Bilyet Giro
  3. Wesel
  4. Kuitansi
  5. Surat Aksep
  6. Deviden
  7. Kupon

 

Warkat Inkaso

  1. Warkat inkaso tanpa lampiran yaitu warkat–warkat inkaso yang tidak dilampirkan dengan dokumen – dokumen apapun seperti cek, bilyet giro, wesel dan surat berharga.
  2. Warkat inkaso dengan lampiran yaitu warkat–warkat inkaso yang dilampirkan dengan dokumen–dokumen lainnya seperti kwitansi, faktur, polis asuransi dan dokumen–dokumen penting.

Jenis Inkaso

  1. Inkaso Keluar, merupakan kegiatan untuk menagih suatu warkat yang telah diterbitkan oleh nasabah bank lain. Di sini bank menerima amanat dari nasabahnya sendiri untuk menagih warkat tersebut kepada seseorang nasabah bank lain di kota lain.
  2. Inkaso masuk, merupakan kegiatan yang masuk atas warkat yang telah diterbitkan oleh nasabah sendiri. Dalam kegiatan inkaso masuk, bank hanya memeriksa kecukupan dari nasabahnya yang telah menerbitkan warkat kepada pihak ke tiga.

Keuntungan transaksi inkasso

Inkaso memiliki manfaat atau keuntungan seperti diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Membantu lebih efektif dan efisien dalam penyelesaian tagihan antar kota.
  • Lebih bonafid dan nasabah memiliki reputasi yang lebih jelas.
  • Kemudahan dalam penagihan pembayaran atas warkat-warkat dengan biaya yang kompetitif.

 

Mekanisme atau prosedur inkasso

Inkaso dibedakan menjadi:

  1. Inkaso melalui bank lain yaitu inkaso yang dilaksanakan terhadap pihak ketiga yang merupakan nasabah dari Bank lain.
  2. Inkaso melalui cabang sendiri yaitu Inkaso yang dilakukan melalui cabang Bank sendiri untuk pihak ketiga di luar kota pada kantor cabang Bank sendiri.

Biaya atau fee transaksi inkasso

Rincian biaya yang dikeluarkan dalam melakukan Inkaso yaitu sebagai berikut :

–          Outward collection (inkaso keluar) : 0,125% x nominal transfer (min USD 10, max USD 150) atau biasanya Rp 7.500,-

–          Inward collection (inkaso masuk) : 0,125% x nominal transfer (min USD 10, max USD 150) + USD 35 atau biasanya Rp 5.000,-

 

 

Proses Inkaso Sesama Bank ABCD :

  1. Nasabah bank ABCD Bandung menyerahkan warkat bank ABCD kota “X untuk ditagih.
  2. Bank ABCD Bandung mengirimkan warkat tersebut kepada Bank ABCD kota “X” melalui ekspedisi.
  3. Bank ABCD kota “X” akan memeriksa kebenaran dan saldo nasabah penarik.
  4. Hasil inkaso akan diberitahkan oleh bank ABCD Bandung dengan menggunakan media teleks.
  5. Bank ABCD Bandung memberitahukan hasil inkaso kepada nasabahnya. Bila tidak ada tolakan maka saldo nasabah akan dikredit (ditambah).

 

Proses Inkaso, Warkat Bank Lain di kota dimana terdapat cabang Bank ABCD

Keterangan :

  1. Nasabah Bank ABCD Bandung menyerahkan warkat Bank Lain Kota “X” untuk ditagihkan.
  2. Bank ABCD Bandung mengirim warkat tersebut kepada Bank ABCD di Kota “X”.
  3. Bank ABCD kota “X” mengkliringkan warkat tersebut.
  4. Bank Lain membawa pulang warkat untuk diperiksa dan memotong saldo nasabahnya.
  5. Hasilnya diberitahukan kepada Bank ABCD kota “X”. Bila tidak ada tolakan berarti menambah saldo bank ABCD.
  6. Hasil inkaso diberitahukan oleh bank ABCD kota “X” kepada bank ABCD Bandung dengan mempergunakan teleks.
  7. Bank ABCD Bandung meneruskan hasil inkaso kepada nasabah.

 

Proses Inkaso menggunakan Jasa Bank Tertagih

Keterangan :

  1. Nasabah Bank ABCD Bandung menyerahkan warkat Bank Lain (Bank XYZ) dikota “X” untuk ditagihkan. B
  2. ank ABCD Bandung mengirim warkat tersebut kepada Bank XYZ (Bank Tujuan) di Bandung.
  3. Bank XYZ Bandung akan mengirim warkat tersebut kepada cabangnya di kota “X”.
  4. Bank XYZ di kota “X” akan memeriksa dan memotong saldo nasabahnya.
  5. Hasilnya diberitahukan oleh bank XYZ di kota “X” kepada Bank Lain di Bandung.
  6. Hasil Inkaso diteruskan oleh Bank XYZ kepada bank ABCD Bandung.
  7. Bank ABCD Bandung meneruskan hasil inkaso kepada nasabah.

 

Proses Inkaso melalui Bank Koresponden

Keterangan :

  1. Nasabah Bank ABCD Bandung menyerahkan warkat inkaso untuk ditagihkan.
  2. &    3. Bank ABCD Bandung mencari bank koresponden (Bank yg memiliki hub. Dengan bank ABCD) yang memiliki cabang di Bandung dan di kota tujuan (Kota “X”) dan mengirim warkat tersebut kepada bank koresponden.
    1. Bank koresponden cab. Kota “X” mengkliringkan warkat tesebut.
    2. Bank lain di kota “X” membawa warkat ke banknya untuk diperiksa sebagaimana layaknya pemeriksaan warkat kliring dan mendebet rekening nasabahnya bila tidak ada tolakan.
    3. Hasil kliring diberitahukan kepada bank koresponden cab. Kota”X”.
    4. Hasil tersebut diteruskan oleh bank koresponden kota “X” kepada bank koresponden di Bandung.
    5. Bank Koresponden di Bandung meneruskan hasil inkaso tersebut kepada Bank ABCD Bandung.
    6. Bank ABCD Bandung meneruskan hasil inkaso kepada nasabah. Bila tidak ada tolakan berarti pengkreditan rekening nasabah sebenarnya nilai hasil inkaso.

 

Sumber :

http://rianariandi.blogspot.com/2011/05/pengertian-inkasso-keuntungan-transaksi.html

http://dannaru.blogspot.com/2011/05/inkasso.html

http://perempuanqu.wordpress.com/

http://1t4juwita.wordpress.com/2011/03/19/jasa-jasa-bank-fee-base-income/

http://www.btn.co.id/Produk/Produk-Jasa/Inkaso.aspx

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Perbankan Elektronik ( E-Banking )

E-banking

 

Perbankan Elektronik (bahasa InggrisE-banking) adalah salah satu sektor yang terpengaruh oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi adalah perbankan, penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di sektor perbankan nasional relatif lebih maju dibandingkan sektor lainnya. Perbankan elektronik mencakup wilayah yang luas dari teknologi yang berkembang pesat akhir-akhir ini. Beberapa diantaranya terkait dengan layanan perbankan di “garis depan”, seperti ATM dan komputerisiasi (sistem) perbankan, dan beberapa kelompok lainnya bersifat “garis belakang”, yaitu teknologi-teknologi yang digunakan oleh lembaga keuangan, ‘merchant, atau penyedia jasa transaksi. Berbagai jenis teknologinya diantaranya meliputi:

Bank Indonesia sendiri lebih sering menggunakan istilah Teknologi Sistem Informasi Perbankan untuk semua terapan teknologi informasi dan komunikasi dalam layanan perbankan, atau lebih populer dengan istilah perbankan elektronik (electronic banking)

 

KETERHUBUNGAN

Saat ini sebagian besar layanan perbankan elektronik terkait langsung dengan rekening bank. Jenis perbankan elektronik yang tidak terkait rekening biasanya berbentuk nilai moneter yang tersimpan dalam basis data atau dalam sebuah kartu (cip dalam kartu pintar). Dengan semakin berkembangnya teknologi dan kompleksitas transaksi, berbagai jenis perbankan elektronik semakin sulit dibedakan karena fungsi dan fiturnya cenderung terintegrasi atau mengalami konvergensi. Sebagai contoh, sebuah kartu plastik mungkin memiliki “magnetic strip” yang memungkinkan transaksi terkait dengan rekening bank, dan juga memiliki nilai moneter yang tersimpan dalam sebuah chip. Kadang kedua jenis kartu tersebut disebut “debit card” oleh merchant atau vendor.

 

JENIS LAYANAN

Perbankan Daring

Perbankan daring (online banking) pada dasarnya merupakan gabungan dua istilah dasar yaitu daring (online) dan perbankan(banking). Saat ini internet telah menghubungkan lebih dari 100.000 jaringan komputer di dunia dengan pengguna lebih dari 100 juta orang. Dapat melakukan transaksi perbankan (finansial dan non-finansial) melalui komputer yang terhubung dengan jaringan internet bank.
Jenis transaksi :

  • transfer dana,
  • Informasi saldo
  • mutasi rekening
  • informasi nilai tukar
  • pembayaran tagihan (misal: kartu kredit, rekening telepon, rekening listrik, asuransi)
  • pembelian (misal: pulsa ponsel, tiket pesawat, saham)

Perbankan bergerak

Perbankan bergerak (mobile banking) adalah layanan perbankan yang dapat diakses langsung melalui telepon seluler GSM dengan menggunakan SMS.
Jenis transaksi:

  • transfer dana
  • informasi saldo
  • mutasi rekening
  • informasi nilai tukar
  • pembayaran (kartu kredit, rekening listrik, rekening telepon, asuransi)
  • pembelian (pulsa isi ulang, saham).

 

KEJAHATAN DALAM PERBANKAN ELEKTRONIK

Lubang keamanan (security hole) akan selalu ada, hal ini bisa diamati dari situs web yang melaporkan adanya lubang keamanan setiap hari. Namun bisnis tidak dapat berhenti karena adanya potensi lubang keamanan. Untuk sekadar transaksi yang bersifat informatif (tidak ada pengurangan saldo) maka cukup menggunakan ssandi lewat (password) untuk masuk, tetapi untuk transaksi yang sifatnya memindahkan/mengurangi saldo nasabah diminta untuk memasukan pin yang dihasilkan oleh suatu alat yang biasa disebut token atau pin. Alat ini akan mengeluarkan deretan angka (biasanya 6 digit) yang hanya identik dengan rekening nasabah tersebut. Jadi token lain tidak mungkin bisa digunakan pada rekening. Yang dapat dilakukan adalah meningkatkan tingkat kesulitan untuk masuk dengan menggunakan pengamanan-pengamanan, dinding api (firewal) & IDS (dalam kasus server Internet). kejahatan siber yang merupakan kejahatan di dunia maya (siber) sangat memungkinkan data nasabah di sadap pada saat melakukan transaksi perbankan elektronik.

 

Perkembanggan teknologi perbankan elektronik

Peran teknologi dalam dunia perbankan sangatlah mutlak, dimana kemajuan suatu sistem perbankan sudah barang tentu ditopang oleh peran teknologi informasi. Semakin berkembang dan kompleksnya fasilitas yang diterapkan perbankan untuk memudahkan pelayanan, itu berarti semakin beragam dan kompleks adopsi teknologi yang dimiliki oleh suatu bank. Tidak dapat dipungkiri, dalam setiap bidang termasuk perbankan penerapan teknologi bertujuan selain untuk memudahkan operasional intern perusahaan, juga bertujuan untuk semakin memudahkan pelayanan terhadap customers. Apalagi untuk saat ini, khususnya dalam dunia perbankan hampir semua produk yang ditawarkan kepada customers serupa, sehingga persaingan yang terjadi dalam dunia perbankan adalah bagaimana memberikan produk yang serba mudah dan serba cepat.

Salah satu bank yang paling mutakhir dengan teknologi hi-end nya adalah BCA, dimana dengan asset teknologi mutakhir yang dimilikinya BCA mampu menjadi leader dalam hal pelayanan e-banking. Dengan jumlah ATM terbesar yang dimilikinya, fasilitas internet banking,dll. Padahal ukuran kecanggihan sebuah teknologi perbankan tidak hanya dilihat dari coverage ATM-nya semata, tapi seharusnya dilihat pada data centernya, khususnya di aplikasi core bankingnya.

Memang kendala yang dihadapi oleh dunia perbankan adalah kompleks dan mahalnya teknologi informasi, karena sebagian besar teknologi ini masih disuplay oleh vendor-vendor luar negeri. Tetapi kita lihat sekarang, banyak vendor – vendor pribumi yang berani bersaing dalam teknologi informasi ini. Jadi kenapa kita tidak memakai vendor-vendor pribumi untuk menanamkan teknologi informasi tersebut dalam dunia perbankan. Hal ini manjadi tuntutan bagi perbankan karena mau tidak mau suatu korporasi yang mempunyai ruang lingkup kerja yang luas ditambah dengan operasional-operasional yang sangat banyak harus ditunjang dengan suatu teknologi untuk memudahkan, mengefisienkan dan mengefektifkan kinerja tersebut. Apalagi dalam dunia perbankan dibutuhkan suatu informasi yang up to date bagi pihak manajemen menengah ke atas untuk memprediksikan langkah bisnis yang akan diambil sehingga berbagai kendala yang mungkin muncul dapat teratasi.

Sebagai contoh, dibangunnya suatu sistem informasi Biro Kredit Nasional oleh Bank Indonesia, hal itu dilakukan tidak lain adalah untuk mengantisipasi resiko kredit yang mungkin muncul apabila salah seorang debitur mengajukan pinjaman di salah satu bank padahal pinjaman di bank lain belum lunas. Hal ini dibutuhkan kesinergian dan up to date-nya informasi antar bank sehingga hal tersebut dapat terhindarkan.

Operasional yang real time antar bank juga telah menjadi tuntutan bagi dunia perbankan, karena hal ini menjadi salah satu materi bagi pelayanan yang berkompetisi dalam memasarkan produk perbankan. Pengiriman uang transfer antar bank, outlet-outlet otomasi (ATM), hal ini menjadi patokan penilaian bagi para nasabah umumnya dalam melakukan transaksi dalam segi pelayanan. Jadi memang mau tidak mau bisnis perbankan harus ditunjang keefisienan operasional jika ingin bersaing di dalam dunianya, dan hal ini harus ditunjang dengan suatu sistem yang terintegrasi yang termuat dalam suatu teknologi informasi.

Penerapan suatu teknologi informasi menuntut diantaranya sumber daya manusia yang memadai. Jika sumber daya manusia yang ada tidak menguasai teknologi tersebut hal ini menjadi suatu pemborosan semata, karena mahalnya teknologi yang telah dibeli jika tidak terpakai merupakan suatu hal yang sia-sia. Oleh karena itu sebelum teknologi tersebut diterapkan, sudah seharusnyalah kita instropeksi terhadap kemampuan korporasi, apakah cocok teknologi tersebut diterapkan, apakah sumber daya manusianya memadai, dan apakah teknologi tersebut mempunyai features yang dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama. Karena penerapan suatu sistem teknologi informasi merupakan salah satu aktivitas investasi jangka panjang bagi korporasi. Hal ini sudah sepatutnya menjadi hal yang diperhitungkan dalam dunia perbankan, sebagai lembaga intermediasi bagi masyarakat, sudah seharusnya perbankan menjadi “pelayan” yang setia dengan selalu merealisasikan bentuk-bentuk pelayanan dengan menggunakan teknologi informasi.

Namun masyarakat sering salah kaprah. Internet banking sering dikatakan canggih karena memungkinkan akses perbankan dari manapun. Padahal jika dilihat dari arsitektur sistem perbankannya, E-Banking hanyalah salah satu channel dari banyak channel untuk transaksi perbankan semisal EDC (electronic data capture) yang banyak terdapat di merchant belanja. Ataupun mesin ATM itu sendiri

Mudahnya sebuah sistem yang mengelola data hingga 140 juta customer base yang hanya digunakan untuk pencatatan saja semisal KPU-Pemilu, tentunya tidak lebih canggih dibandingkan BRI dengan 30 juta customer yang menggunakan aplikasinya untuk menghitung kelipatan bunga dan kredit. Dan tentunya tidak berarti BRI kalah canggih dengan aplikasi Bank Niaga yang mampu dengan akses banyak channel-nya bila pelanggannya hanya 10juta.

Pengembangan lokasi layanan perbankan saat ini nyaris sudah tidak mungkin, penambahan produk baru juga tidak akan beranjak jauh dari inovasi sekitar mobile-banking dan ekstensifikasi layanan private banking, yang semula diarahkan ke nasabah-nasabah kelas kakap saja. Layanan financial planning yang semula sangat terbatas, kini semakin marak dan dimungkinkan dengan terbukanya peluang untuk memadukan produk-produk asuransi, pasar-modal dan dana-pensiun ke dalam layanan perbankan. Teknologi yang diperlukan sifatnya menjadi sangat individual dan tergantung pada profil dan kebutuhan masing-masing nasabah. Yang penting adalah bahwa perkembangan saat ini menunjukkan bahwa layanan jasa-keuangan sedang bergerak ke arah konvergensi di antara keempat jenis produk tersebut.

Lalu, bagaimana penerapan teknologi informasi untuk kebutuhan seperti ini? Tidak mungkin melakukan integrasi dari semua sistem aplikasi yang terkait, karena masing-masing aplikasi hampir pasti dioperasikan oleh perusahaan-perusahaan yang berbeda. Beberapa bank tampak mengoperasikan service desk terpisah untuk masing-masing jenis layanan jasa keuangan. Insurance desk misalnya, ada di sudut khusus untuk jenis layanan itu. Capital market instruments relatip lebih mudah diintegrasikan ke dalam layanan jasa perbankan, itupun kalau konfigurasi produknya simpel-simpel saja. Pola ini primordial sifatnya dan sudah dilakukan lebih dari 10 tahun yang lalu. Tantangannya adalah dukungan teknologi perbankan di meja service representative yang dapat digunakan untuk memadukan semua layanan jasa perbankan ini dan meraciknya secara individual untuk para nasabah yang memerlukan.

Berbagai kasus di atas membantu menunjukkan bahwa teknologi yang diterapkan dengan baik memberikan competitive advantage kepada sebuah bank. Setiap bank mempunyai akses yang sama atas teknologi yang ada, namun yang mampu memanfaatkannya dengan benar adalah mereka yang berhasil meraciknya ke dalam sebuah konfigurasi yang fungsional dan efisien, yang diimplementasikan dengan seksama, yang mendukung produk dan layanan yang ciamik serta dioperasikan dengan tepat-guna. Membeli teknologi adalah kegiatan yang paling mudah dan tidak memerlukan keahlian tinggi. Namun, semuanya kembali memerlukan perancangan, penerapan teknologi yang baik, Good IT Governance, yang berdasarkan keseuaian target korporasi dari perbankan itu sendiri.

 

Jenis-jenis E-banking

  1. Automated Teller Machine (ATM). Terminal elektronik yang disediakan lembaga keuangan atau perusahaan lainnya yang membolehkan nasabah untuk melakukan penarikan tunai dari rekening simpanannya di bank, melakukan setoran, cek saldo, atau pemindahan dana.
  2. Computer Banking. Layanan bank yang bisa diakses oleh nasabah melalui koneksi internet ke pusat data bank, untuk melakukan beberapa layanan perbankan, menerima dan membayar tagihan, dan lain-lain.
  3. Debit (or check) Card. Kartu yang digunakan pada ATM atau terminal point-of-sale (POS) yang memungkinkan pelanggan memperoleh dana yang langsung didebet (diambil) dari rekening banknya.
  4. Direct Deposit. Salah satu bentuk pembayaran yang dilakukan oleh organisasi (misalnya pemberi kerja atau instansi pemerintah) yang membayar sejumlah dana (misalnya gaji atau pensiun) melalui transfer elektronik. Dana ditransfer langsung ke setiap rekening nasabah.
  5. Direct Payment (also electronic bill payment). Salah satu bentuk pembayaran yang mengizinkan nasabah untuk membayar tagihan melalui transfer dana elektronik. Dana tersebut secara elektronik ditransfer dari rekening nasabah ke rekening kreditor. Direct payment berbeda dari preauthorized debit dalam hal ini, nasabah harus menginisiasi setiap transaksi direct payment.
  6. Electronic Bill Presentment and Payment (EBPP). Bentuk pembayaran tagihan yang disampaikan atau diinformasikan ke nasabah atau pelanggan secara online, misalnya melalui email atau catatan dalam rekening bank. Setelah penyampaian tagihan tersebut, pelanggan boleh membayar tagihan tersebut secara online juga. Pembayaran tersebut secara elektronik akan mengurangi saldo simpanan pelanggan tersebut.
  7. Electronic Check Conversion. Proses konversi informasi yang tertuang dalam cek (nomor rekening, jumlah transaksi, dll) ke dalam format elektronik agar bisa dilakukan pemindahan dana elektronik atau proses lebih lanjut.
  8. Electronic Fund Transfer (EFT). Perpindahan “uang” atau “pinjaman” dari satu rekening ke rekening lainnya melalui media elektronik.
  9. Payroll Card. Salah satu tipe “stored-value card” yang diterbitkan oelh pemberi kerja sebagai pengganti cek yang memungkinkan pegawainya mengakses pembayaraannya pada terminal ATM atau Point of Sales. Pemberi kerja menambahkan nilai pembayaran pegawai ke kartu tersebut secara elektronik.
  10. Preauthorized Debit (or automatic bill payment). Bentuk pembayaran yang mengizinkan nasabah untuk mengotorisasi pembayaran rutin otomatis yang diambil dari rekening banknya pada tanggal-tangal tertentu dan biasanya dengan jumlah pembayaran tertentu (misalnya pembayaran listrik, tagihan telpon, dll). Dana secara elektronik ditransfer dari rekening pelanggan ke rekening kreditor (misalnya PLN atau PT Telkom).
  11. Prepaid Card. Salah satu tipe Stored-Value Card yang menyimpan nilai moneter di dalamnya dan sebelumnya pelanggan sudah membayar nilai tersebut ke penerbit kartu.
  12. Smart Card. Salah satu tipe stored-value card yang di dalamnya tertanam satu atau lebih chips atau microprocessors sehingga bisa menyimpan data, melakukan perhitungan, atau melakukan proses untuk tujuan khusus (misalnya validasi PIN, otorisasi pembelian, verifikasi saldo rekening, dan menyimpan data pribadi). Kartu ini bisa digunakan pada sistem terbuka (misalnya untuk pembayaran transportasi publik) atau sistem tertutup (misalnya MasterCard atau Visa networks).
  13. Stored-Value Card. Kartu yang di dalamnya tersimpan sejumlah nilai moneter, yang diisi melalui pembayaran sebelumnya oleh pelanggan atau melalui simpanan yang diberikan oleh pemberi kerja atau perusahaan lain. Untuk single-purpose stored value card, penerbit (issuer) dan penerima (acceptor) kartu adalah perusahaan yang sama dan dana pada kartu tersebut menunjukkan pembayaran di muka untuk penggunaan barang dan jasa tertentu (misalnya kartu telpon). Limited-purpose card secara umum digunakan secara terbatas pada terminal POS yang teridentifikasi sebelumnya di lokasi-lokasi tertentu (misalnya vending machines di sekolah-sekolah). Sedangkan multi-purpose card dapat digunakan pada beberapa penyedia jasa dengan kisaran yang lebih luas, misalnya kartu dengan logo MasterCard, Visa, atau logo lainnya dalam jaringan antar bank.

 

System aplikasi perbankan

Aplikasi perbankan dianggap salah satu aplikasi yang paling kompleks dalam pengembangan perangkat lunak saat ini dan industri pengujian Apa yang membuat aplikasi Perbankan begitu rumit? Pendekatan apa yang harus diikuti dalam rangka untuk menguji alur kerja yang kompleks yang terlibat? In this article we will be highlighting different stages and techniques involved in testing Banking applications. Pada artikel ini kita akan menyoroti berbagai tahap dan teknik yang terlibat dalam pengujian aplikasi Perbankan.

 

Karakteristik dari aplikasi Perbankan adalah sebagai berikut:

–       Multi tier fungsionalitas untuk mendukung ribuan sesi pengguna bersamaan

–       Integrasi skala besar, biasanya sebuah aplikasi perbankan terintegrasi dengan aplikasi lain seperti utilitas Bill Pay dan rekening Perdagangan

–       Kompleks Bisnis workflow

–       Real Time dan Batch processing

–       Tinggi tingkat Transaksi per detik

–       Transaksi Aman

–       Pelaporan Kuat bagian untuk melacak hari ke hari transaksi

–       Kuat Audit memecahkan masalah pelanggan

–       Besar sistem penyimpanan 

 

Manajemen Bencana

 

Internet banking

Online banking (atau internet banking atau e-banking) memungkinkan pelanggan dari sebuah lembaga keuangan untuk melakukan transaksi keuangan pada website yang aman dioperasikan oleh lembaga, yang dapat menjadi ritel ataumaya perbankan , credit union atau bangunan masyarakat .

Untuk mengakses fasilitas online banking lembaga keuangan, seorang pelanggan memiliki akses internet pribadi harus mendaftarkan diri ke lembaga untuk layanan ini, dan menyiapkan beberapa password (di bawah berbagai nama) untuk verifikasi pelanggan. Password untuk online banking biasanya tidak sama seperti untuk telepon perbankan . Lembaga keuangan sekarang secara rutin mengalokasikan nomor pelanggan (juga di bawah berbagai nama), apakah atau tidak pelanggan berniat untuk mengakses fasilitas perbankan online mereka. Nomor pelanggan biasanya tidak sama dengan nomor rekening, karena jumlah rekening dapat dihubungkan dengan jumlah pelanggan satu. Pelanggan akan terhubung ke nomor pelanggan setiap akun tersebut yang kontrol pelanggan, yang mungkin cek, tabungan, pinjaman, kartu kredit dan account lainnya.

Untuk mengakses perbankan online, pelanggan akan pergi ke situs web institusi keuangan, dan masukkan fasilitas perbankan online menggunakan nomor pelanggan dan password. Beberapa lembaga keuangan telah menyiapkan langkah-langkah keamanan tambahan untuk akses, tetapi tidak ada konsistensi dengan pendekatan diadopsi.

 

Sitem kliring elektronik

Sebuah kliring elektronik terminal(ECT) diinstal pada premis/bank cabang untuk menagkap dan mengirim informasi MICR cek ke ACH.Pada ACH, sebuah computer pusat akan menerima dam memproses informasi cek yang dikirimkan oleh bank/cabang. Berdasarkan informasi cek ditransmisikan, ACH dan dapat menghitung kliring bank dan posisi pemukiman. Pemeriksaan fisik akan disampaikan di lain waktu ke ACH.Setelah menerima cek fisik,  ACH akan menjalankan proses untuk membandingkan informasi MICR atas cek fisik terhadap informasi yang dikirimkan secara online oleh bankInformasi MICR atas cek fisik terhadap informasi yang ditransmisikan secara online oleh bank. System akan menghasilkan laporan pengecualian untuk menyorot setiap perbedaan bagi bank. Pemeriksaan selanjutnya akan disortir oleh pembaca kecepatan tinggi/penyotir untuk diambil oleh masing-masing bank.

 

 

 

 

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/E-banking

http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=pengertian%20e-banking&source=web&cd=9&cad=rja&ved=0CG0QFjAI&url=http%3A%2F%2Fresearch.amikom.ac.id%2Findex.php%2FKIM%2Farticle%2Fdownload%2F4893%2F3218&ei=zmBhUdXOIozRrQeMqYGQAw&usg=AFQjCNEu_q5LbOdwqv1Fg2gBoSfjwyuaEQ&bvm=bv.44770516,d.bmk

http://lasriaceriana.blogspot.com/2013/01/pengertian-e-banking.html

http://tugasgw.wordpress.com/2009/07/11/e-banking-sistem-informasi-manajemen/

http://infobebas.web.id/2011/keuntungan-internet-banking.html

http://ema-lestari.blogspot.com/2011/01/contoh-e-banking.html

http://agusanton16-tuananton.blogspot.com/2012/06/sistem-perbankan-elektronik.html

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Aplikasi Sistem Informasi yang Diterapkan Pada Organisasi Bank Rakyat Indonesia (BRI)

Aplikasi Sistem Informasi yang Diterapkan Pada Organisasi

Bank Rakyat Indonesia (BRI)

Bank Rakyat Indonesia (BRI) adalah salah satu bank milik pemerintah yang terbesar di Indonesia. Pada awalnya Bank Rakyat Indonesia (BRI) didirikan di Purwokerto, Jawa Tengah oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja dengan nama De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden atau “Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi Purwokerto”, suatu lembaga keuangan yang melayani orang-orang berkebangsaan Indonesia (pribumi). Lembaga tersebut berdiri tanggal 16 Desember 1895, yang kemudian dijadikan sebagai hari kelahiran BRI.

Sejak 1 Agustus 1992 berdasarkan Undang-Undang Perbankan No. 7 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah RI No. 21 tahun 1992 status BRI berubah menjadi perseroan terbatas. Kepemilikan BRI saat itu masih 100% di tangan Pemerintah Republik Indonesia. Pada tahun 2003, Pemerintah Indonesia memutuskan untuk menjual 30% saham bank ini, sehingga menjadi perusahaan publik dengan nama resmi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., yang masih digunakan sampai dengan saat ini.

Di tengah persaingan industri perbankan yang semakin ketat, BRI Sebagai bank transaksional terus menerus memperluas ragam produknya dengan menawarkan rangkaian jasa yang sangat beragam untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan spesifik para nasabahnya. Adapun produk dan jasa dari BRI antara lain:

Jenis

Produk atau Jasa

Simpanan

Tabungan BRI, Deposito, Giro BRI

Pinjaman

Pinjaman Mikro, Ritel, Kredit UKM, Program, Kredit Usaha Rakyat

Jasa Bank

Jasa Bisnis, Jasa Keuangan, Jasa Lain, Kelembagaan, E – Banking, Treasury, Internasional

Produk Konsumer

Kartu Kredit, Kredit Pemilikan Rumah, Kredit Kendaraan Bermotor, Kredit Multi Guna (KMG)

Produk Investasi

DPLK, ORI & SR, Jasa Wali Amanat, Jasa

Jenis

Produk atau Jasa

 

Kustodian

Produk Prioritas

Produk,layanan,privileges, Reksa Dana, Kartu BRI Prioritas,

Banyaknya kantor cabang, koordinasi yang belum berjalan dengan baik dari kantor pusat hingga unit terkecil, dan beragamnya produk BRI tentu membutuhkan sistem pengelolaan dan pengawasan yang baik agar tidak terjadi penyimpangan dalam menjalankan bisnis. Banyaknya kantor cabang tersebut dapat mempersulit BRI untuk mengetahui kondisi perusahaan secara keseluruhan. Demikian halnya dengan masalah perkembangan produk yang ada dalam tiap kantor cabangnya. BRI juga belum melibatkan Business Intelligence pada proses bisnisnya. Padahal untuk bersaing dalam persaingan yang sangat ketat saat ini, perusahaan perlu mengetahui kondisi internal perusahaannya sehingga perusahaan dapat mengetahui posisi mereka dalam pasar yang pada akhirnya akan mempermudah perusahaan dalam pengambilan langkah selanjutnya .

Mengetahui adanya permasalahan terkait dengan proses bisnis dan pengendalian internal, BRI memutuskan untuk menerapkan IT dalam mengakuisisi sistem informasi atau teknologi informasi yang akan dibahas sebagai berikut.

APLIKASI YANG DIGUNAKAN

Untuk menanggapi permasalahan yang dihadapai oleh BRI seputar proses bisnis perbankan, maka BRI telah mengimplementasikan beberapa sistem informasi sebagai berikut :

Core Banking System (CBS)

Aplikasi real time online yang menghubungkan kantor pusat dengan unit BRI yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia. Selama tahun 2007 telah dilakukan penambahan unit kerja online yaitu dengan mengimplementasi aplikasi Core Banking System yang disebut aplikasi BRINETS pada 720 BRI Unit. Dengan implementasi ini jumlah BRI Unit yang terhubung secara real time online pada tahun 2007 bertambah sebanyak 720 lokasi menjadi  1.690 lokasi, tersebar di tiga wilayah waktu.

 Electronic Banking

Untuk melayani nasabah 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, BRI secara terus menerus melakukan penyempurnaan dan pengembangan fitur-fitur layananelectronic banking. Melalui media elektronik memungkinkan nasabah untuk memperoleh informasi, melakukan komunikasi dan melakukan transaksi perbankan melalui ATM, phone banking, electronic fund transfer, dan mobile phone. Dengan menggunakan BRI Card, nasabah dapat melakukan transaksi tunai dan non tunai di lebih dari 1.262 ATM BRI, lebih dan 28.226 ATM Bersama, ATM Prima dan ATM Link, ratusan ribu ATM berlogo Cirrus dan Bankcard.

Enterprise Data Model

Enterprise Data Model, penyediaan monitoring tools, dan pengembangan query builder untuk mendukung pengembangan operasional bank secara lengkap dan terpadu. Enterprise Data Model  juga digunakan untuk memberikan kemudahan kepada bisnis dalam membuat laporan-laporan sesuai kebutuhan internal dan eksternal.

Business Continuity Plan  dan Disaster Recovery Plan

Untuk menjaga kepercayaan nasabah dan untuk meminimalisi resiko operasional dari gagalnya sistem aplikasi dan infrastruktur teknologi informasi, Bank BRI telah menyiapkan BusinessContinuity Plan dan Disaster Recovery Plan yang merupakan bagian dari Business Continuity Management Perusahaan. Secara periodik dilaksanakan uji coba pada sistem aplikasi dan infrastruktur yang kritikal, dengan tujuan agar kegiatan usaha BRI dapat tetap berjalan saat terjadi gangguan pada sarana teknologi informasi yang dipergunakan. Selam itu, BRI juga menyiapkan Disaster Recovery Center (DRC) pada lokasi yang berbeda dengan Data Center sebagai fasilitas pengganti jika Data Center mengalami gangguan atau tidak dapat berfungsi, seperti tidak adanya aliran listrik ke ruang komputer, kebakaran, ledakan atau kerusakan pada komputer.

Avaibility Jaringan Komuniksi

BRI harus menjaga dan memelihara availability jaringan komunikasi yang ada. Availability ini dilakukan derigan monitoring secara terus menerus melalui Enterprise Monitoring System serta redundancy dan diverifikasi media komunikasi dengan menggunakan satelit, terrestrial, dan wireless, sebab, BRI sebagai bank dengan jaringan kerja dan operasional yang terbesar di Indonesia serta adanya pertumbuhan dan pertambahan yang agresif dari unit kerja yang real time on-line.

Security System

BRI secara rutin melakukan evaluasi dan audit terhadap keamanan infrastruktur teknologi. Evaluasi dan audit ini dilakukan untuk mengurangi resiko kelemahan dan kerawanan terhadap keamanan infrastruktur teknologi informasi. Selain itu, BRI mulai melakukan inisiasi untuk sertifikasi Operational IT Security, yang comply terhadap standansasi (ISO 27001:2005) yang telah diakui secara internasional.

INVESTASI TEKNOLOGI INFORMASI

Diperlukan bagi Bank BRI untuk terus mengembangkan teknologi informasinya agar dapat bersaing dengan industri perbankan lain juga demi menciptakancompetitive advantage, maka, BRI dapat menerapkan sistem informasi sebagi berikut :

  1. 1.      Business Intelligence

BRI Business intelligence System dikategorikan sebagai aplikasi untuk mengumpulkan, menyimpan, menganalisis dan menyediakan akses ke data guna membantu pengguna mengambil keputusan bisnis secara lebih baik. Aplikasi ini mencakup aktivitas sistem pendukung keputusan, query, reporting, online analytical processing (OLAP), statistical analysis, forecasting, dan data mining. Singkat kata, Business intelligence dibutuhkan untuk mengubah data mentah menjadi informasi pendukung pengambilan-keputusan perusahaan dan proses bisnis.

Adapun kegunaan Business Intelligence System di Bank Rakyat Indonesia adalah :

  1. Menjadi Bank terkemuka yang ditunjang dengan penggunaan SI/TI di Indonesia
  2. Mengumpulkan, menyimpan, menganalisis dan menyediakan Informasi pengambil keputusan bagi pihak manajemen dalam proses bisnis
  3. Forecasting

 

  1. Customer Relationship Management (CRM)

Customer Relationship Management merupakan strategi dan usaha untuk menjalin hubungan dengan pelanggan dan memberikan pelayanan yang memuaskan bagi pelanggan. CRM mengintegrasikan strategi penjualan, pemasaran, dan pelayanan yang terkoordinasi.CRM menyimpan informasi pelanggan dan merekam seluruh kontak yang terjadi antara pelanggan dan perusahaan, serta membuat profil pelanggan untuk staf perusahaan yang memerlukan informasi tentang pelanggan tersebut.

Tujuan CRM yaitu :

  1. Menggunakan hubungan dengan nasabah untuk meningkatkan keuntungan
  2. Menggunakan informasi untuk memberikan pelayanan yang memuaskan
  3. Mendukung proses sosialisai produk berulang kepada nasabah
  4. Meningkatkan standar & prosedur pelayanan kepada nasabah
  1. Decision Support System (DSS)

Decision Support System (DSS) sebagai sebuah system yang memberikan dukungan kepada seorang manajer, atau kepada sekelompok manajer yang relative kecil yang bekerja sebagai team pemecah masalah, dalam memecahkan masalah semi terstrukitur dengan memberikan informasi atau saran mengenai keputusan tertentu.Informasi tersebut diberikan oleh laporan berkala, laporan khusus, maupun output dari model matematis. Model tersebut juga mempunyai kemampuan untuk memberikan saran dalam tingkat yang bervariasi.

Tujuan  implementasi BRI Decision Support System yaitu :

  1. Membantu manajer dalam pembuatan keputusan untuk memecahkan masalah semi  terstruktur
  2. Mendukung keputusan manajer, dan bukannya mengubah atau mengganti keputusan tersebut
  3. Meningkatkan efektivitas menajer dalam pembuatan keputusan, dan bukannya peningkatan efisiensi
  1. E-Learning System

E-Learning System adalah pembelajaran jarak jauh (distance Learning) yang memanfaatkan teknologi komputer, jaringan komputer dan/atau Internet. E-Learning sering pula dipahami sebagai suatu bentuk pembelajaran berbasis web yang bisa diakses dari intranet di jaringan lokal atau internet. Sebenarnya materi e-Learning tidak harus didistribusikan secara on-line baik melalui jaringan lokal maupun internet, distribusi secara off-line menggunakan media CD/DVD pun termasuk pola e-Learning. Dalam hal ini aplikasi dan materi belajar dikembangkan sesuai kebutuhan dan didistribusikan melalui media CD/DVD, selanjutnya pembelajar dapat memanfatkan CD/DVD tersebut dan belajar di tempat di mana dia berada. Dengan  e – learning, karyawan dapat melihat modul-modul yang pembelajaran, mengambil tugas-tugas dan ujian yang harus dikerjakan, serta melihat jadwal diskusi secara maya dengan instruktur, nara sumber lain, dan pembelajar lain.

MANFAAT TEKNOLOGI INFORMASI

Secara garis besar, beberapa manfaat yang didapatkan BRI dengan melakukan investasi di bidang teknologi informasi tersebut antara lain:

  1. Kemudahan melakukan kontrol perusahaan

Implementasi teknologi informasi seperti CBS yang telah dilakukan oleh BRI menjadikan sistem yang ada dalam perusahaan tersebut menjadi terintegrasi. Kondisi ini tentu akan mempermudah perusahaan untuk mengetahui perkembangan bisnisnya setiap saat karena data yang ada dalam sistem tersebut adalah data yang online dan up to date dengan demikian perusahaan akan dapat mengetahui aktivitas sehari-hari dari tiap departemen dan kantor cabangnya. Dengan CBS, dapat menghubungkan kantor pusat dengan unit BRI yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia. Kondisi ini tentu akan mempermudah perusahaan dalam melakukan kontrol untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam proses bisnis, dan apabila kesalahan telah terjadi perusahaan dapat langsung mengetahui sehingga perusahaan dapat meminimalisasi kerugiannya.

  1. Produktivitas Meningkat

Pengimplementasian berbagai jenis teknologi informasi pada BRI menyebabkan kinerja perusahaan menjadi lebih meningkat. Hal ini dikarenakan pengunaan teknologi tersebut dapat menciptakan kecepatan dalam bekerja dan juga memberikan tingkat akurasian yang cukup tinggi hal ini tentu akan dapat meningkatkan peroduktivitas perusahaan karena dengan tingkat kecepatan bekerja yang tinggi perusahaan akan memperoleh output yang lebih banyak dalam hal ini perusahaan dengan sumber daya yang tetap akan dapat melayani nasabahnya dalam jumlah yang lebih besar bahkan dengan digunakannya teknologi ini perusahaan dapat mengurangi sumber dayanya tetapi output atau banyaknya nasabah yang dilayani mengalami peningkatan. Melalui media elektronik seperti ­e – banking memungkinkan nasabah untuk memperoleh informasi, melakukan komunikasi dan melakukan transaksi perbankan melalui ATM, phone banking, electronic fund transfer, dan mobile phone. Selain dengan penerapan teknologi informasi pada pelayanan terhadapa nasabah juga mampu menciptakan competitive advantage bagi BRI untuk bersaing dengan industri perbankan lain.

  1. Membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih baik

Keputusan kritis harus diambil dengan berbagai pertimbangan yang tepat untuk menentukan masa depan perusahaan. Dengan business intelligence, merupakan aplikasi untuk mengumpulkan, menyimpan, menganalisis dan menyediakan akses ke data guna membantu pengguna mengambil keputusan bisnis secara lebih baik, kondisi ini tentu akan membantu top management untuk mengetahui kondisi perusahaan secara detail sehingga informasi yang didapatkan menjadi lebih lengkap. Informasi yang lengkap tersebut akan dapat membantu perusahaan dalam mengambil keputusan, melakukan perencanaan bisnisnya di masa yang akan datang yang pada akhirnya informasi tersebut juga akan membantu perusahaan dalam melakukan perencanaan strateginya.

 

Sumber :

 http://edwardsimatupang.blogspot.com/2008/01/investasi-informasi-teknologi-it-pada.html

http://meryna.blog.binusian.org/2012/12/12/pemanfaatan-ict-pada-industri-perbankan-bank-rakyat-indonesia/

https://ib.bri.co.id/

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

EVOLUSI TEORI MANAJEMEN

EVOLUSI TEORI MANAJEMEN

Arti Teori

Teori adalah kelompok yang koheren dari dalil umum yang digunakan sebagai

prinsip untuk menjelaskan berbagai kelas fenomena.

• Kelompok koheren adalah seperti suatu system efisien yang terdiri atas beberapa

bagian yang bekerja bersama-sama, dan teori adalah sistem efisinsi yang terdiri dari

kelompok yang koheren dari bagian tersebut yang saling bersesuaian dengan cara

yang logis.

• Prinsip adalah peraturan perilaku atau tindakan yang diterima secara umum.

• Penjelasan, tujuan penjelasan dalam bisnis adalah untuk menjelaskan berbagai

fenomena bisnis.

• Kelas fenomena berhubungan dengan berbagi bidang aktifitas khusus. Fenomena

dimaksudkan disini adalah manajemen dan teori.

Teori dalam Bisnis

Teori adalah studi tentang perilaku konsumen. Banyak usaha yang telah

difokuskan pada penerapan teori psikologi dan sosiologi untuk bidang bisnis.

Tujuan Mempelajari Teori

Teori memberikan pemahaman mengenai system bisnis yang kompleks kepada

manajer dengan lebih baik. Pemahaman ini mambantu manajer untuk melakukan

pekerjaan yang lebih baik pula.

Informasi dan Teori

Teori memberitahu manajer apa yang diharapkan. Sistem Informasi

memberitahu apa yang sedang terjadi. Jika kenyataan aktifitas berbeda dengan apa yang

diharapkan, maka teori diperbaiki. Selama jangka waktu tertentu manajer dapat

mengembangkan teori yang secara akurat meramalkan perilaku dalam system bisnis.

Anda dapat mengetahui cara system informasi manajer membantu untuk mengembangkan

teori.

A. TEORI MANAJEMEN KLASIK

Teori manajemen mencakup segala sesuatu yang berhubungan dengan tugas manajerial,

termasuk organisasi.

Frederik W. Taylor (bapak manajemen ilmiah) percaya bahwa dengan memaksimalkan

produktivitas akan memaksimalkan keuntungan perusahaan dan pendapatan bagi

karyawan. Dia menganjurkan menggunakan Standar Penampilan, yaitu pencapaian

tingkat produktivitas pekerja yang diharapkan.

• Tujuan adalah sesuatu yang ingin dicapai oleh perusahaan atau unit organisasi (berupa

statemen yang luas dan umum)

• Standart adalah ukuran penampilan yang jika dipenuhi akan menghasilkan tujuan yang

dicanangkan (dinyatakan dalam kalimat yang jelas dan dapat diukur, sehingga tingkat

pencapaiannya dapat diukur)

Tiap manajer adalah mekanisme kontrol dari sistemnya. Manajer menjaga

penampilan sisem pada target yang berkenaan dengan tujuan, dengan membandingkan

penampilan terhadap standar. Konsep ini adalah kunci untuk memahami peranan CBIS

dalam pemecahan masalah.

Pengaruh tingkat manajemen pada fungsi manajemen, adalah:

• Manajer tingkat atas waktunya lebih banyak digunakan untuk perencanaan, manajer

tingkat rendah untuk pegaturan staf, pengarahan dan pengontrolan, sedangkan manajer

tingkat menengah untuk pengorganisasian.

• Berpengaruh terhadap aspek dasar CBIS, yaitu sumber data dan informasi dan cara

menampilkan informasi.

• Perlu informasi dari sumber yang berbeda, yaitu informasi lingkungan untuk manajer

puncak dan sumber internal untuk manajer tingkat bawah.

B. TEORI PERILAKU

Kontribusi studi perilaku ada dua kelompok, yatu memberikan penekanan pada

orang yang ada dalam pekerjaan dari pada jenis pekerjaan itu sendiri.

• Hawthorne merupakan bagian dari human relation movement (gerak-gerik hubungan

manusia), pertama memahami mengenai ornag yang bekerja dalam organisasi

• Kelompok system social, menghasilkan kumpulan materi organizational behaviour

(perilaku organisasi)

Reaksi berantai yang menghubungkan kebutuhan pekerja dengan perusahaan adalah:

1 . Mengetahui kebutuhan bekerja

2 . Memotivasi pekerja untuk melakukan pekerjaan demi tercapainya tujuan

perusahaan

3 . Kerja dijalankan

4 . Tercapainya tujuan perusahaan

TEORI KEPUTUSAN MANAJEMEN

Kelompok teori keputusan menekankan penggunaan teknik kuantitatif dalam pembuatan

keputusan.

Keputusan dibedakan menjadi (Herbert A.Simon):

• Keputusan terprogram dalah keputusan yang berulang-ulang dan rutin dan dapat

dijelaskan dalam prosedur

• Keputusan tidak terprogram adalah keputusan yang baru dan tak tersusun dan tidak ada

metode yang jelas untuk membuatnya

Model matematis untuk model bisnis adalah model EOQ (economic order

quantity),

TEORI KEMUNGKINAN DALAM MANAJEMEN

Kelompok pencetus teori percaya bahwa tak ada teori yang dapat berlaku

sepanjang waktu, dan bahwa keberhasilan tergantung pada situasi. Kelompok

ini dikenal sebagai kelompok kemungkinan atau situasi.

Menurut kelompok ini faktor penting yang mempengaruhi praktek manajemen

adalah dukungan manajer, terdiri :

• Lingkungan eksternal : ekonomi, politik, dan pengaruh social pada

perusahaan

• Lingkungan internal : batasan yang diakibatkan oleh sumber perusahaan.

CBIS dapat menyediakan informasi yang baik dan mempermudah

pengambilan keputusan yang tepat.

PERANAN MANAJERIAL MINTZBERG

Mintzberg, ada 10 peranan yang akan dapat dimasukkan dalam 3 katagori

yaitu :

PERANAN INTERPERSONAL

Katagori interpersonal meliputi figure pimpinan, dan penghubung. Figur

pimpinan terdiri dari tugas seremonial, seperti pemeriksaan fasilitas oleh

yang berwewenang. Sebagai pimpinan manajer memperoleh unit dengan

memperkerjakan dan mamberi tranning kepada staf, serta mamberi motivasi

dan dorangan. Peranan sebagai pendukung melakukan kontrak dengan

orang di luar unit milik manjer tersebut, kawan sejawat, dan yang lain dalam

lingkungan unit, dengan tujuan untuk turut serta dalam permasalahana bisnis.

PERANAN INFORMASIONAL

Katagori ini dianggap informasi sebagi unsur yang penting dalam kerja

manajenen. Sebagai pemonitor manajer harus selalu mencari informasi untuk

keperluan penampilan unit. Ketika manajer menerima informasi yang penting

dan akan menyebarkan kepada orang lain maka akan bertindak penyebar.

Manajer bertindak sebagai pembicara dengan mengemukakan informasi

kepada orang yang berada di luar unit, yaitu pimpinan dan orang lain dalam

lingkungan.

PERANAN DESISIONAL

Manajer adalah pembuat keputusan. Manajer harus bertindak sebagai

pengusaha, dengan mambuat perbaikan yang agak permanen terhadap unit.

Sebagai penghalau gangguan, manajer akan bereaksi terhadap kejadian yang

tidak bisa diantisipasi, seperti devaluasi dollar. Sebagai pengalokasi sumber,

manajer mengontrol penggunaan dana dalam unit, dengan menentukan bagian

mana yang harus mendapatkan sumber itu terlebih dahulu. Manajer sebagai

penegosiasi, dengan menyelesaikan perselisihan yang ada dalam unit ataupun

antara unit dan lingkungan.

SARAN UNTUK SPESIALIS INFORMASI

Mintzberg memberikan 3 saran kepada para spesialis informasi yaitu :

• Jangan mempelajari informasi yang dibutuhkan oleh manajer dengan

hanya menanyakan. Pelajari dengan mengamati manajer, mengetahui

berapa banyak waktu yang digunakannya, dengan siapa ia bekerja dan

dimana ia bekarja.

Coba dapatkan sebanyak mungkin pengetahuan manajer dalam

menyimpan komputer bila mungkin. Hal ini akan meminimalkan

hilangnya informasi yang disebabkan oleh kerusakan dan akan

memudahkan penyebarannya ke yang lain. Saran ini khusus pada

perancang expert system.

Cobalah untuk mengembangkan system formal yang meliputi lebih

banyak lagi informasi-informasi yang dikehendaki manajer. Saran ini

khusus untuk perancang system otomatisasi kantor.

KEGUNAAN TEORI MANAJEMEN TERHADAP MANAJEMEN INFORMASI

CBIS dimaksudkan untuk mambantu dalam pengelolaan. Namun demikian,

specialis informasi tidak boleh dibebankan semua tanggung jawab kepada

manajer. Ketrampilan manajemen dasar harus digunakan untuk pelaksanaan

CBIS.

TEORI ORGANISASI

Teori organisasi berkenaan dengan penyusunan dan penggabungan sumber

perusahaan. Diagram organisasi yaitu diagram yang menunjukkan jajaran

horizontal dan vertikal dari personil dalam organisasi. Teori organisasi telah

berkembang melalui beberapa pengelompokan yaitu pertama kelompok klasik,

diikuti dengan kelompok perilaku dan kemudian kelompok kemungkinan.

TEORI ORGANISASI KLASIK

Taylor dan kelompok manajemen ilmiahnya menekanakan pada pelaksanaan

operasi internal sebagai sesuatu yang efisien, rasional dan dapat diramalkan

sedapat mungkin.

Henry Fayol menentukan sejumlah prinsip organisasi, yang memberikan

pedoman untuk menetapkan susunan organisasi yang tepat.

Kita telah memilih beberapa prinsip tersebut, serta telah kita terapkan dalam

perusahaan sebagai sistem dan kita bahas dalam istilah system.

C. TEORI KUANTITATIF

ditandai dengan berkembangnya team-team riset operasi dalam pemecahan masalah-

masalah industri yang didasarkan atas suksesnya team riset operasi Inggris.

Langkah-langkah pendekatan management science:

a . Perumusan masalah

b . Penyusunan suatu model sistemastis

c . Mendapatkan penyelesaian dari model

d . Pengujian model dan hasil yang didapatkan dari model

e . Penerapan pengawasan atas hasil-hasil

f. Pelaksanaan hasil dalam kegiatan implementasi

D . EVOLUSI TEORI MANAJEMEN

Ada lima kemungkinan arah perkembangan teori manajemen di masa mendatang

1. Dominan

Salah satu dari aliran utama dapat muncul sebagai yang paling berguna

2 . Divergence

Setiap aliran berkembang melalui jalurnya sendiri

3 . Convergence

Aliran-aliran dapat menjadi sepaham dengan batasan-batasan diantara mereka

cenderung kabur

4 . Sintesa

Masing-masing aliran berintegrasi

5 . Proliferation

Akhirnya ada kemungkinan muncul lebih banyak aliran lagi

1.4. MANAJEMEN DAN LINGKUNGAN EKSTERNAL

A. FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN EKSTERNAL MIKRO DAN MAKRO

• Lingkungan eksternal terdiri atas unsur-unsur di luar organisasi, yang sebagian

besar tak dapat dikendalikan dan berpengaruh dalam pembuatan keputusan oleh

manajer

1. LINGKUNGAN EKSTERNAL MIKRO

Lingkungan eksternal mikro terdiri dari:

• para pesaing (competitors)

organisasi mengetahui posisi persaingannya, sehingga mampu mengoptimalkan

operasi-operasinya

• Langganan (customer)

Untuk mengantisipasi

perubahan perilaku pasar atau langganan dan

mengarahkan pengalokasian sumber dayanya sesuai kebutuhan dan keinginan

langganan

• Pasar tenaga kerja (labor supply)

Faktor yang paling berpengaruh adalah:reputasi perusahaan di mata angkatan

kerja, tingkat pertumbuhan angkatan kerja dan tersedianya tenaga kerja susuai

persyaratan yang dibutuhkan

• Lembaga-lembaga keuangan

Jangka pendek untuk biaya operasi, sedangkan jangka panjang untuk fasilitas dan

peralatan baru

• Para penyelia (suppliers)

Harus selalu dinilai kualitas dan kuantitas dari penyedia, sehingga dapat

disesuaikan dengan karakteristik yang diinginkan perusahaan

• Perwakilan pemerintah

Peraturannya harus dipatuhi organisasi dalam operasinya, prosedur perijinan dan

pembatasan lain untuk melindungi masyarakat

2. LINGKUNGAN EKSTERNAL MAKRO

Lingkungan eksternal makro mencakup:

• Perkembangan Teknologi

Teknologi berperan dalam penentuan produk dan jasa yang diproduksi, peralatan

yang digunakan dan bagaimana operasi akan dikelola

• Variabel-variabel ekonomi

Perlu dilakukan peramalan ekonomi dan antisipasi perubahan harga

• Lingkungan Sosial-Kebudayaan

Mencakup kepercayaan,nilai,sikap,pandangan serta pola kehidupan yang

dibentuk tradisi, pendidikan, kelompok ethnis,ekologi,demografis,serta agama

dan kepercayaan dari masyarakat

Variabel-variabel Politik-hukum

Pemerintah memainkan peranan sekaligus sebagai pencipta kesempatan, pemberi

perlindungan, dan penetapan batasan

Dimensi Internasional

Kekuatan Internasional berpengaruh melalui perkembangan politik

dunia,ketergantungan ekonomi,penularan nilai-nilai dan sikap hidup serta transfer

teknologi

B. TANGGUNG JAWAB SOSIAL MANAJER

• Berarti bahwa manjemen mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi

didalam pembuatan keputusannya.

• Ada 5 faktor yang mempengaruhi keputusan-keputusan pada masalah etika,

yaitu:

1 . Hukum

2 . Peraturan-peraturan pemerintah

3 . Kode etik industri dan perusahaan

4 . Tekanan-tekanan sosial

5 . Tegangan antara standar perorangan dan kebutuhan organisasi

Sumber : http://www.linkpdf.com/ebook-viewer.php?url=http://203.130.231.110/handouts/S1_Sistem%20Informasi/SIM/SIM%20A.doc

Dipublikasi di Uncategorized | 5 Komentar

KEGIATAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL MANAJER PERUSAHAAN ( PT Indocement )

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Indocement berkomitmen mendukung lingkungan yang berkelanjutan dengan mengurangi pemakaian bahan bakar fosil. Efisiensi penggunaan energi adalah strategi bisnis yang baik, dan menjadi landasan Perseroan dalam upayanya memenuhi peningkatan permintaan pasar secara berkelanjutan. Indocement berharap dapat menjadi panutan bagi perusahaan lain di berbagai industri yang padat emisi karbon di Indonesia.

Indocement menjalankan program tanggung jawab social perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) untuk mendukung upaya Pemerintah Indonesia mencapai Sasaran Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals – MDG) untuk pengentasan kemiskinan sampai tahun 2015. Indonesia merupakan salah satu dari 189 negara penandatangan Deklarasi Milenium pada bulan September 2000. Ke-8 tujuan MDG tersebut adalah:

– MDG 1: Pengentasan kemiskinan dan kelaparan yang ekstrim

– MDG 2: Pemerataan pendidikan dasar

– MDG 3: Mendukung persamaan gender dan pemberdayaan perempuan

– MDG 4: Mengurangi tingkat kematian anak

– MDG 5: Meningkatkan kesehatan ibu

– MDG 6: Perlawanan terhadap HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya

– MDG 7: Menjamin lingkungan hidup yang berkelanjutan

– MDG 8: Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan

Program CSR Indocement dikembangkan dengan mengacu pada lima Pilar yaitu pendidikan-kesehatan-ekonomi-sosial, budaya, agama dan olahraga-keamanan. Terkait dengan MDG, program CSR Perseroan telah mendukung pencapaian sasaran MDG 1 sampai MDG 7, dan menitikberatkan pada pengentasan kemiskinan (MDG 1) dan lingkungan hidup yang berkelanjutan (MDG 7).

Pada tanggal 15 Oktober 2009 Indocement menerima Peringkat Emas dalam Program PROPER periode 2008-2009 untuk Pabrik Citeureup. Selain itu, Pabrik Palimanan memperoleh Peringkat Hijau. Program PROPER merupakan prakarsa Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia untuk mendorong penerapan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan di kalangan perusahaan. Untuk periode 2008-2009, kriteria PROPER terutama menekankan aspek pengelolaan sumber daya alam, pengelolaan lingkungan, serta tanggung jawab sosial perusahaan. Indocement adalah
salah satu dari dua perusahaan yang berhasil memperoleh Peringkat Emas sejak program PROPER diselenggarakan pada tahun 2002.

Pemeringkatan PROPER diberikan berdasarkan penilaian atas kepatuhan Perseroan terhadap berbagai kriteria seperti penanganan polusi air dan udara, penanganan limbah beracun dan berbahaya, serta persyaratan lain terkait dengan kelengkapan dokumen AMDAL (Analisa Manajemen Dampak Lingkungan) Perseroan. Penilaian juga mencakup kajian atas upaya penerapan prinsip manajemen lingkungan yang berkelanjutan serta program CSR yang dilakukan Perseroan.

Selain telah menerapkan standar ISO 14001 dalam sistem manajemen lingkungan, Indocement juga menerapkan prinsip 3R (reuse, recycle, recovery) melalui kebijakan penggunaan bahan bakar dan bahan baku alternatif dalam produksi Perseroan.

Dua prakarsa penting terkait peningkatan efisiensi operasional dan pengurangan konsumsi bahan bakar dan emisi CO2 adalah: (1) Proyek Bahan Bakar Alternatif, dan (2) Proyek Blended Cement. Kedua prakarsa yang dimulai sejak tahun 2006 tersebut memiliki kaitan erat dengan lingkungan hidup yang berkelanjutan. Selain dapat menghemat biaya kebutuhan energi, kedua prakarsa tersebut juga sangat efektif untuk mengurangi emisi CO2. Pencapaian ini sejalan dengan program pengendalian pemanasan global di bawah Konvensi Kerangka Kerja Persatuan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) yang telah diratifikasi oleh Pemerintah Republik Indonesia pada bulan Juli 2004.

Indocement telah bekerja sama dengan beberapa pihak untuk mewujudkan proyek Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism – CDM) sebagaimana diatur oleh Protokol Kyoto. Program CDM memungkinkan sebuah perusahaan untuk memperoleh kredit karbon atas pengurangan yang dapat diverifikasi pada emisi CO2 yang dihasilkan. Kredit karbon dalam satuan Emisi Reduksi yang Disertifikasi (CER) diberikan untuk setiap ton pengurangan emisi CO2. CER yang diperoleh kemudian dapat dijual pada perusahaan yang ingin memenuhi target pengurangan emisi karbon.

Pada Proyek Bahan Bakar Alternatif, Indocement bekerja sama dengan konsultan untuk menghitung secara akurat volume emisi CO2 yang dapat dikurangi melalui pemakaian bahan bakar alternatif selama periode dua tahun, dibandingkan apabila memakai bahan bakar fosil untuk menghasilkan energi yang setara. Pada tahun 2008 Indocement memperoleh 80.967 CER dari Proyek Bahan Bakar Alternatif. Proyek Blended Cement juga memakai mekanisme yang sama terkait pengurangan emisi CO2 akibat penggunaan bahan baku alternatif pada produksi semen komposit Perseroan. Sampai dengan Desember 2009, Proyek Blended Cement masih berada pada tahap verifikasi.

Di Indonesia, relatif belum banyak perusahaan yang berpartisipasi pada proyek CDM, sekalipun Pemerintah telah meratifikasi Protokol Kyoto sejak beberapa tahun yang lalu. Dengan penerimaan CER di tahun 2008 untuk Proyek Bahan Bakar Alternatif, Indocement menjadi perusahaan pertama di Indonesia yang berhasil menyelesaikan suatu siklus proyek CDM. Pelaksanaan proyek memang berjalan lambat akibat lamanya proses verifikasi yang diperlukan, namun hal ini bisa dimengerti mengingat bahwa aktivitas pengurangan emisi CO2 masih merupakan proyek perintis yang relatif baru diperkenalkan di Indonesia.

Indocement berkomitmen mendukung lingkungan yang berkelanjutan dengan mengurangi pemakaian bahan bakar fosil. Efisiensi penggunaan energi adalah strategi bisnis yang baik, dan menjadi landasan Perseroan dalam upayanya memenuhi peningkatan permintaan pasar secara berkelanjutan. Indocement berharap dapat menjadi panutan bagi perusahaan lain di berbagai industri yang padat emisi karbon di Indonesia.

Sejak bulan Agustus 2007, Indocement melakukan penanaman pohon jarak pagar (Jatropha Curcas) sebagai upaya rehabilitasi lahan paska penambangan. Sekitar 70 hektar lahan di sekitar Pabrik Citeureup dan 100 hektar lainnya di lokasi Pabrik Palimanan dan Pabrik Tarjun telah direhabilitasi. Selain untuk rehabilitasi lahan, penanaman jarak pagar diharapkan dapat menghasilkan sumber energi terbarukan dan menjadi sumber penghasilan tambahan bagi komunitas di sekitar lokasi operasional Perseroan. Program ini dilakukan melalui kerja sama teknis dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon dan Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin di masing-masing lokasi.

Upaya lain yang juga merupakan langkah terobosan untuk mendorong praktik lingkungan yang berkelanjutan adalah program pengelolaan sampah, dimana sampah rumah tangga yang dihasilkan oleh komunitas di sekitar lokasi operasional Perseroan diolah menjadi biogas (sebagai bahan bakar alternatif) dan kompos (sebagai pupuk untuk tanaman jarak pagar). Perseroan juga membantu masyarakat setempat memanfaatkan kotoran sapi yang menghasilkan biogas untuk keperluan rumah tangga mereka. Sampai dengan akhir tahun 2009, sebanyak 12 reaktor biogas telah terpasang di rumah masyarakat di kawasan sekitar lokasi operasional Perseroan.

Pada bidang pendidikan, Indocement mengadakan program pelatihan guru bagi sekolah menengah di sekitar lokasi operasional Perseroan. Program ini mendapat sambutan baik dari masyarakat. Pada bulan Agustus 2009, Perseroan juga menyiapkan sebuah bengkel kecil yang memberikan pelatihan keterampilan montir sepeda motor. Fasilitas ini sangat diminati mengingat sepeda motor merupakan moda transportasi utama bagi kebanyakan keluarga di sana. Indocement merencanakan membuka lebih banyak lagi fasilitas serupa di tahun 2010.

Terkait aspek pengentasan kemiskinan, Perseroan fokus pada bantuan pengembangan sumber mata pencaharian bagi individu di sekitar lokasi usaha. Bagi Indocement, keberhasilan upaya ini diukur dari dampaknya yang berkelanjutan. Dalam hal ini, peserta program diharapkan mampu melanjutkan usaha agar dapat memberikan nafkah bagi keluarganya setelah berakhirnya program.

Pada tahun 2009, Indocement bekerja sama dengan IPB membuka sebuah fasilitas pelatihan di Citeureup untuk membekali peternak domba setempat dengan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan, melalui sesi pelatihan selama 3 bulan. Pada akhir tahun 2009, program tersebut telah mulai dengan angkatan pertama sebanyak 30 peserta dari komunitas sekitar, yang diharapkan akan menyelesaikan pelatihan di triwulan pertama tahun 2010. Selanjutnya, Perseroan merencanakan sesi pelatihan bagi 100 sampai 120 peserta setiap tahunnya. Bekerja sama dengan dinas terkait, Perseroan juga membuka fasilitas pelatihan di dekat Pabrik Palimanan yang memberikan pelatihan dan bimbingan bagi petani dan nelayan di sekitar wilayah tersebut. Fasilitas pelatihan tersebut juga telah mulai dengan angkatan pertama di akhir tahun, dan rencananya akan berlanjut dengan jumlah peserta yang sama.

Prakarsa lain yang dilakukan Indocement untuk membantu meningkatkan kesejahteraan warga komunitas di sekitar lokasi operasionalnya adalah melalui skema kredit Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Bekerja sama dengan Bank Mandiri dan Bank Rakyat Indonesia, Perseroan bertindak selaku fasilitator untuk penyaluran dana kepada usaha kecil dan mikro.

Skema pembiayaan mikro membantu pedagang kecil untuk meningkatkan penghasilan dan bahkan membuka kesempatan kerja bagi orang lain. Sampai saat ini, sekitar 32 pengusaha kecil telah memanfaatkan program tersebut, sehingga mereka terhindar dari praktik lintah darat yang seringkali justru semakin membuat mereka makin terpuruk akibat bunga pinjaman yang sangat tinggi.

Selain tujuan jangka panjang dalam pengentasan kemiskinan dan pelestarian serta perbaikan lingkungan hidup, Indocement juga aktif berpartisipasi memberikan bantuan dana kemanusiaan dan bencana alam. Di tahun 2009, Perseroan memberikan bantuan kemanusiaan pada dua peristiwa bencana gempa bumi. Bantuan pertama ditujukan bagi masyarakat di Tasikmalaya, Jawa Barat, yang diguncang gempa bumi pada tanggal 2 September 2009. Tidak lama berselang, Perseroan kembali membantu korban bencana gempa bumi yang lebih parah lagi yaitu yang terjadi di Padang, Sumatera Barat, pada tanggal 30 September 2009. Pada kedua peristiwa tersebut, Perseroan mengalokasikan dana sekitar Rp410 juta, dimana sekitar Rp140 juta diantaranya berasal dari sumbangan karyawan Perseroan.

Melalui berbagai upaya tersebut di atas, Indocement terus berkontribusi membantu Indonesia mencapai target MDG. Indocement juga rutin mensosialisasikan program CSR dan lingkungan hidup ke perusahaan yang beroperasi di sekitarnya, dengan harapan dapat menjadi panutan dalam pelaksanaan CSR.

Sumber : http://www.indocement.co.id/new_id/csr.asp

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar